jump to navigation

Kisah Sahabat: Abdurrahman tolak tawaran 100,000 dirham demi agama November 7, 2006

Posted by KarQoon in Gen Knowledge.
trackback

IA adalah lukisan nyata mengenai keperibadian Arab dengan segala kedalaman dan kejauhannya. Bapanya adalah orang yang pertama beriman dan ‘Siddiq’, yang memiliki corak keimanan tiada tandingnya terhadap Allah dan Rasul-Nya, serta orang kedua ketika mereka berada dalam gua.

Tetapi Abdurrahman termasuk salah seorang yang keras laksana batu karang menyatu menjadi satu, senyawa dengan agama nenek moyangnya dan berhala Quraisy. Pada perang Badar, dia tampil sebagai barisan penyerang pihak tentera musyrik.

Pada perang Uhud, dia mengepalai pasukan panah yang dipersiapkan Quraisy untuk menghadapi kaum Muslimin dan sebelum kedua pasukan itu bertempur, lebih dulu seperti biasa dimulai dengan perang tanding.

Abdurrahman maju ke depan dan meminta lawan daripada pihak Muslimin. Maka bangkitlah bapanya yakni Abu Bakar as-Siddiq maju ke muka melayani cabaran anaknya itu tetapi Rasulullah menahan sahabatnya melakukan perang tanding dengan puteranya sendiri.

Bagi seorang Arab tulen , tidak ada ciri lebih menonjol daripada kecintaannya terhadap apa yang diyakininya. Jika ia meyakini kebenaran sesuatu agama atau sebuah pendapat, maka tidak ubah ia bagai tawanan yang diperhamba oleh keyakinan itu.

Tidak dapat melepaskan diri lagi kecuali bila ada keyakinan baru yang lebih kuat, yang memenuhi rongga akal dan jiwanya tanpa syak wasangka sedikit pun, yang akan menggeser keyakinan pertama tadi.

Demikianlah, bagaimana juga hormatnya Abdurrahman kepada bapanya, serta kepercayaannya yang penuh kepada kematangan akal dan kebesaran jiwa serta budinya, namun keteguhan hatinya terhadap keyakinannya tetap berkuasa hingga tiada terpengaruh oleh keIslaman bapanya itu.

Maka ia berdiri teguh dan tidak beranjak dari tempatnya, memikul tanggungjawab aqidah dan keyakinannya itu, membela berhala Quraisy dan bertahan mati-matian melawan kaum Mukminin yang sanggup mengorbankan jiwanya.

Pada suatu hari, bermulalah saat ditetapkan takdir yakni saat menandakan kelahiran baru Abdurrahman bin Abu Bakar Siddiq.

Pelita petunjuk menyuluhi dirinya hingga mengikis habis bayang kegelapan dan kepalsuan warisan jahiliyah. Dilihatnya Allah Maha Tunggal lagi Esa di sekelilingnya dan petunjuk Allah menukar dia menjadi seorang Muslim.

Secepatnya dia bangkit melakukan perjalanan jauh menemui Rasulullah untuk kembali ke pangkuan agama yang hak. Maka bercahaya wajah Abu Bakar kerana gembira ketika melihat puteranya itu baiat kepada Rasulullah SAW.

Mulai saat itu, Abdurrahman berusaha sekuat tenaga menyusul ketinggalan selama ini, baik di jalan Allah mahupun di jalan Rasul dan orang-orang Mukmin.

Di masa Rasulullah SAW, khalifah sepeninggalannya, Abdurrahman tidak ketinggalan mengambil bahagian dalam peperangan, dan tidak pernah berpangku tangan dalam jihad.

Pada peperangan Yamamah, jasanya amat besar. Keteguhan dan keberaniannya memiliki peranan besar dalam merebut kemenangan daripada tentera Musailamah dan orang murtad.

Bahkan beliau menghabiskan riwayat Mahkam bin Thufeil, yang menjadi otak perencana bagi Musailamah, dengan segala daya upaya dan kekuatannya ia berhasil mengepung benteng terpenting tentera murtad.

Di bawah naungan Islam sifat utama Abdurrahman bertambah tajam dan lebih menonjol. Kecintaan kepada keyakinannya dan kemahuan yang teguh untuk mengikuti apa yang dianggapnya hak dan benar.

Tiada sedikitpun dia terpengaruh pancingan atau menerusi tekanan, bahkan pada saat gawat, yakni ketika Muawiyah memutuskan hendak memberikan baiat sebagai khalifah bagi Yazid dengan ketajaman senjata.

Muawiyah mengirim surat baiat itu kepada Marwan gabenornya di Madinah dan menyuruh membacanya kepada kaum Muslimin di masjid. Marwan melaksanakan perintah itu, tetapi belum selesai membacanya, Abdurrahman bin Abu Bakar bangkit dengan maksud hendak protes: “Demi Allah, rupanya bukan kebebasan memilih yang anda berikan kepada umat Nabi Muhammad SAW, tetapi anda hendak menjadikannya kerajaan seperti di Romawi hingga bila seorang kaisar meninggal, tampillah kaisar lain sebagai penggantinya.”

Saat itu Abdurrahman melihat bahaya besar sedang mengancam Islam seandainya Muawiyah melanjutkan rencananya akan merubah demokrasi dalam Islam menjadi sistem monarki di mana rakyat diperintah raja atau kaisar yang mewarisi takhta secara turun temurun.

Belum selesai Abdurrahman melontarkan kecaman keras ke muka Marwan, ia disokong segolongan Muslimin yang dipimpin Husein bin Ali, Abdullah bin Zubeir dan Abdullah bin Umar.

Di belakang muncul beberapa keadaan mendesak yang memaksa Husein, Ibnu Zubeir dan Ibnu Umar berdiam diri terhadap rencana baiat yang hendak dilaksanakan Muawiyah dengan kekuatan senjata itu.

Muawiyah mengirim utusan untuk menyerahkan wang kepada Abdurrahman 100,000 dirham dengan maksud hendak memujuknya tetapi Abdurrahman melemparkan harta itu jauh-jauh.

Katanya kepada utusan Mu’awiyah: “Kembalilah kepadanya dan katakan bahawa Abdurrahman tak hendak menjual agamanya dengan dunia…..!”

Tatkala diketahuinya setelah itu bahawa Mu’awiyah sedang bersiap-siap hendak melakukan kunjungan ke Madinah, Abdurrahman segera meninggalkan kota itu menuju Makkah.

Dan rupanya iradat Allah akan menghindarkan dirinya dari bencana dan akibat pendiriannya ini kerana baru saja ia sampai di luar kota Makkah dan tinggal sebentar di sana, rohnya pun berangkat menemui Tuhannya.

Orang-orang mengusung jenazahnya di bahu mereka dan membawanya ke suatu dataran tinggi kota Makkah lalu memakamkannya di bawah tanah yang telah menyaksikan masa jahiliyahnya dan masa Islamnya seorang lelaki berjiwa bebas dan kesatria

%d bloggers like this: